Dalam Cengkeraman Ilmu Dasar

Setiap bangsa punya pilihan: melahirkan atlet bermedali emas atau perenang yang tak pernah menyentuh air; melahirkan sarjana yang tahu ke mana langkah dibawa atau sekadar membawa ijazah.

Tak termungkiri, negeri ini butuh lebih banyak orang yang bisa membuat ketimbang pandai berdebat, bertindak dalam karya ketimbang hanya protes. Tak banyak yang menyadari sekolah hebat bukan hanya diukur dari jumlah publikasinya, melainkan juga dari jumlah paten dan impak pada komunitasnya.

Pendidikan kita masih berkutat di seputar kertas. Kita baru mahir memindahkan pengetahuan dari buku teks ke lembar demi lembar kertas: makalah, karya ilmiah, skripsi, atau tesis. Kita belum menanamnya dalam tindakan pada memori otot, myelin.

Seorang siswa dapat nilai 90 dalam kelas bukan karena dia bisa menerapkan ilmu itu ke dalam hidupnya, minimal menerpkan di dirinya, atau di diri orang lain, melainkan karena ia sudah bisa menulis ulang isi buku ke lembar-lembar kertas ujian.

Pendidikan tinggi sebenarnya bisa dibagi dalam dua kelompok besar: dasar dan terapan. Pendidikan dasar itulah yang kita kenal sejak di SD: matematika, kimia, biologi, fisika, ekonomi, sosiologi, dan psikologi. Terapannya bisa berkembang menjadi ilmu kedokteran, teknik sipil, ilmu komputer, manajemen, desain, perhotelan, dan seterusnya.

Kedua ilmu itu sangat dibutuhkan bangsa memajukan peradaban. Namun, investasi untuk membangun ilmu dasar amat besar, membutuhkan tradisi riset dan sumber daya manusia bermutu tinggi. Siapa menguasai ilmu dasar ibaratnya mampu menguasai dunia dengan universitas yang menarik ilmuwan terbaik lintas bangsa. Negara-negara yang berambisi menguasainya punya kebijakan imigrasi yang khas dan didukung pusat keuangan dan inovasi progresif.

Dengan bekal ilmu dasar yang kuat, bangsa besar membentuk ilmu terapan. Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris adalah negara yang dibangun dengan keduanya. Namun, sebagian negara di Eropa dan Asia memilih jalan lebih realistis: fokus pada studi ilmu terapan. Swiss fokus dengan ilmu terapan dalam bidang manajemen perhotelan, kuliner, dan arloji. Thailand dengan ilmu terapan pariwisata dan pertanian. Jepang dengan elektronika. Singapura dalam industri jasa keuangannya.

Tentu terjadi pergulatan besar agar ilmu terapan dapat benar- benar diterapkan. Pada mulanya ilmu terapan dikembangkan di perguruan tinggi untuk mendapat dana riset dan menjembatani teori dengan praktik. Akan tetapi, mindset para ilmuwan tetaplah ilmu dasar yang penekanannya ada pada metodologi dan statistik untuk mencari kebenaran ilmiah yang buntutnya ialah publikasi ilmiah.

Melalui pergulatan besar, program studi terapan berhasil keluar dari perangkap ilmu dasar. Ilmu Komputer keluar dari Fakultas Matematika dan Manajemen menjadi Sekolah Bisnis. Dari lulusan dengan ”keterampilan kertas”, mereka masuk pada karya akhir berupa aplikasi, portofolio, mock up, desain, dan laporan pemecahan masalah.

Metodologi dipakai, tetapi validitas eksternal (impak dan aplikasi) diutamakan. Hanya pada program doktoral metodologi riset yang kuat diterapkan. Itu pun banyak ilmuwan terapan yang meminjam ilmu dasar atau ilmu terapan lain sehingga terbentuk program multidisiplin seperti arsitektur yang dijodohkan dengan antropologi atau arkeologi, akuntansi dengan ilmu keuangan.

Anak-anak kita

Kemerdekaan yang diraih program studi ilmu terapan di perguruan tinggi melahirkan revolusi pada tingkat pendidikan dasar. Bila mengunjungi pendidikan anak-anak usia dini, TK dan SD di mancanegara, Anda akan melihat kontras dengan di sini. Alih-alih baca-tulis-hitung dan menghafal, mereka mengajarkan executive functioning, yang melatih anak-anak mengelola proses kognisi (memori kerja, reasoning, kreativitas-adaptasi, pengambilan keputusan, dan perencanaan-eksekusi).

Sekarang jelas mengapa kita mengeluh sarjana tak siap pakai: pendidikan didominasi kultur ilmu dasar yang serba kertas dan mengabaikan aplikasi. Perhatikan, Indonesia masih menjadi negara yang mewajibkan lulusan sekolah bisnis (MM) menulis tesis yang pengujinya getol memeriksa validitas internal dan metodologi yang sempit. Kegetolan ini juga terjadi pada banyak penguji program studi perhotelan atau terapan lain yang merasa kurang ilmiah kalau tidak ada pengolahan data secara saintifik.

Saya ingin menegaskan: hal itu hanya terjadi pada negara yang ilmu terapannya masih terbelenggu mindset ilmu dasar. Keluhannya sama: tak siap pakai, kalah dalam persaingan global.

Pertanyaannya hanya satu, kita biarkan terus seperti ini atau dengan legawa kita mulai pembaruan agar para sarjana ilmu terapan mampu menerapkan ilmunya? Itu terpulang pada kesadaran kita, bukan kesombongan atau ego ilmiah.

Mengapa Anak yang Pintar di Sekolah Bisa Alami Kesulitan Ekonomi?

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.

Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu "ada main" dengan dosen-dosennya. "Karena mereka tak sepintar aku," ujarnya.

Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit. 

Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah orangtua

Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, "Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan".

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan "membuka pintu", jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.

Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.

Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.

Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah.

Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: "Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?"

Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk "bengal". Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang "selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan".

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya. Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar.

Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung orang dewasa

Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif. Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU.

Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui. Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang.

Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu "bodoh", tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya. Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka.  Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.

Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di SMA, saya meracuni kawan kawan saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan. Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.

Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan. Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan.

If you don't have any nice things to say...



I remember glancing at the comments section of some instagram accounts a few days ago. It’s sad how so many people have become so ignorant to what they’re saying, that these days we have to stay sane to set apart honest opinions, constructive critics, or just pure mean comments, to know how to react to them.

Yes, it’s social media. Yes, you have your freedom of speech. But we all have to learn the manner and think before we speak. Saying mean things without any objective reasons is not criticism. If you want to look smart, first be smart enough to learn the difference between delivering a reasonable criticism or just rubbish cynical comments that leads to verbal bullying. Trust me, the second one won’t make you look smart. Instead, it makes you look like a poor, pathetic envious little kid who got nothing to do than bashing people and desperately looking for attention. 

The difference between constructive critics and useless hateful comments:
- hateful comments aren’t based on truth or objective matters, often out-of-topic, or said by anonymous or fake accounts. They’re afraid to reveal their identity because what they’re saying is not true. Hateful comments are said to bring you down.
how to react: Do not reply or react to what they said because that way you’re giving them attention they’re looking for. Simply ignore and block these attention-seekers, don’t waste your time on them.

- constructive critics might sting a little bit, but it builds your consciousness and leads you to do better on what you’re doing. Constructive critics are said because they care about you and they want you to know their personal opinion. They want you to improve.
how to react: be wise and take what you think as a good input for yourself, do not let it make you feel feel bad or slowing you down.

Reasons why those people say mean things (intentionally or not):
- They hate you / what you’ve achieved. They just hate everything you do. They don’t even know you but they hate you. Maybe you look like their ex-boyfriend’s new girlfriend. Or maybe you are their ex-boyfriend’s new girlfriend. I don’t know, but they are full of bitterness and negativity.

- They have low self-esteem / feeling inferior. They love to find out about you, and comparing themselves to you. But your achievement hurts them because they don’t feel as good as you, so they do things to make them feel no longer inferior, such as simply saying you’re not doing better than them or some people they know, or attacking you with mean comments to affect you and what you’re doing.

- They got nothing to do and just desperately looking for your attention. "Hey, maybe she’ll notice me if I drop cruel comments!"

- They’re clueless / simply lacking of manners.


It has been a blurred line since people attached these phrases to justified what they’re saying, such as:
"No hard feelings." / "I’m just saying." 
This does not justify what you’re saying. Not everyone is as strong as you think, some might feel verbally bullied and they won’t get over what you said. Be careful on what came out from your mouth because you can’t take it back. 

You only hear what you want to hear, you can’t take criticism." / Don’t listen to criticism, they’re just haters.
There is a line between not taking criticism or moderating which one’s good for you and which one’s destructive. Don’t be defensive. Be wise to know what’s what, either way it’s for your own good and it’s also your loss if you mistaken a gold input for a rubbish.

——

Any kind of the opinions you give on others, however always have impact, either it’s good or bad. They said ‘if you don’t have anything nice to say, don’t say anything at all’. But it’s your choice anyway. You can make fake account and bash people with your negativity. You can also say constructive comments, magnifying people’s strength, and see the massive impact you can make only by your words. Instead of shutting them down, you can inspire them to do more wonderful things. Make the world a better place, shall we?

Shihlin Attack!

Jadi dulu banget, jalan bareng sama Siyana Tabita ke Citraland Mall, dan waktu itu ditraktir sama dia semacam snack gitu. Dan karena gatau plus gapernah nyobain, akhirnya nurut deh dibeliin. Snack itu khas Taiwan, namanya Shihlin. Jadi itu semacam ayam dilumuri tepung khusus dan di goreng sampe renyah terus dilumuri bumbu merica - or something fragrant, they called. Dulu harganya masih murah, sekitar 25 ribuan. Tapi lama kelamaan harganya jadi 28, and then sekarang 32. Nggak tau deh naik lagi apa engga, soalnya udah nga pernah beli-_-

delicioso :9

Cerita punya cerita, enak banget kan makanannya. Jadi ketagihan. Hampir tiap ke Semarang pasti beli itu. Bahkan pernah, saking ngidamnya, otw sendiri dari Jepara cuman buat beli Shihlin (-_-'')
Dan hal itu keterusan sampe sekarang. Pacarku yang pengertian banget kayaknya udah mulai gedeg sama tingkahku, jadi dia marah. Hahaha :D
Sejak saat itulah.. saya belajar masak. Here we goes..

Shihlin ala Anita!

Bahan:
1 dada ayam, digeprek sampe rada lebar
1 jeruk nipis
1 sdt merica bubuk
1 sdt garam
1 cangkir air matang
100 gram tepung terigu
50 gram bread crumps 
Bread crumps itu kaya remah/serpihan dari roti kering. Biasanya dipakai membalut makanan sebelum digoreng, misalnya: tempura.
500 ml minyak untuk menggoreng
1 sdm bubuk cabai
1 sdm bawang putih bubuk (di swalayan banyak)
1 sdm merica bubuk
1/4 sdt garam halus

Caranya:
1. Ayam dibalur sama jeruk nipis, garam, merica. Diamkan selama 1 jam.
2. Bikin adonan batter, buat melumuri tp dalam bentuk cair. Caranya, campur air matang dengan 3 sdm tepung terigu. Jangan kurang jangan lebih kalau mau pas.
3. Lumurin ayamnya sama adonan batter tadi sampe rata.
4. Balut ayam sama tepung terigu yang udah dicampur bread crumps sampe rata.
5. Goreng (deep fry) dengan minyak panas diatas api kecil sampe kecoklatan di kedua sisi.
6. Angkat dan potong/gunting kecil-kecil.
7. Taburi bumbu bubuk yang udah dicampuri di atas ayam.

Besok-besok kalo pacar lagi sibuk ngurusin ujian nasional, mau ngebolang sendiri ah ke Shihlin lagi, denger-denger Oyster Mee Sua-nya enakbanget. Hmmmm. Tau kagak itu makanan apa? Iya. Aku juga kagak tau. :b



Taraaa! Nggak jadi kehilangan duit 32rb deh! :D